Langsung ke konten utama

Tanam Padi Metode Salibu: Tanpa Benih, Tanpa Olah Lahan, Panen Naik 2 Kali Lipat

Dalam metode tanam salibu, bonggol padi dipangkas pendek kemudian tunasnya yang keluar bisa dipanen lagi dengan berbagai perlakuan khusus. (Foto: GATRAnews/Humas Unsoed/AK9)
Cilacap, GATRAnews – Kelompok tani Rukun Tani Desa Gandrungmanis Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah berhasil meningkatkan hasil panen lebih dari dua kali lipat dengan metode tanam salibu. Selain itu, Indeks Pertanaman (IP) mereka pun naik dari IP100 menjadi IP300 lantaran bisa panen dua kali dalam setahun, dilanjutkan dengan penanaman kedelai metode superbodi.
Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Totok Agung Dwi Haryanto mengatakan salibu merupakan metode tanam tanpa menggunakan benih dan tanpa pengolahan lahan. Teknik salibu menggunakan bonggol tanaman padi sisa panen musim pertama sehingga lebih cepat panen. Adapun metode superbodi adalah metode tanam kedelai dengan memasukkan biji kedelai di tengah bonggol padi.

"Kami sudah perkenalkan metode salibu dan superbodi ini kepada anggota Kelompok Tani `Rukun Tani, Desa Gandrungmanis, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, sejak tahun 2016 melalui Program Pembangunan Pertanian Terpadu Kerja Sama Bank Indonesia dan Unsoed Purwokerto," kata Totok melalui keterangan tertulis yang diterima GATRA, Sabtu (5/8).

Totok menjelaskan, dengan penerapan teknologi tersebut, produktivitas lahan meningkat dari semula 4-4,7 ton per hektar untuk padi pada musim tanam pertama menjadi 8-10,5 ton per hektar.

“Produktivitas pada musim tanam kedua yang menggunakan metode salibu sebanyak 6,5 ton per hektar dengan efisiensi biaya produksi sebesar Rp3,4 juta per hektar serta peningkatan produktivitas kedelai dari 0,9-1,25 ton per hektar menjadi 1,6-1,9 ton per hektar dengan menggunakan metode superbodi,” jelasnya.

Dia mengemukakan, peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas secara langsung berdampak positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Produksi pada musim tanam pertama meningkat lebih dari 100 persen dari 4,7 ton per hektar menjadi 10,5 ton per hektar, produksi secara salibu pada musim tanam kedua meningkat dari 4,7 ton per hektar menjadi 6,5 ton per hektar dengan efisiensi biaya pengadaan benih, persemaian, pengolahan tanah, dan pindah tanam.

“Jika asumsi harga gabah Rp3.500 per kilogram untuk gabah kering panen, pendapatan petani pada musim tanam pertama per hektarnya meningkat dari Rp16.450.000 menjadi Rp36.750.000 atau sebesar 123,40 persen, sedangkan pendapatan pada musim tanam kedua yang menggunakan metode salibu sebesar Rp22.750.000,” paparnya.

Sementara, jika harga kedelai diasumsikan pada kisaran Rp6.500 per kilogram, maka pendapatan petani meningkat dari Rp8.125.000 menjadi Rp12.350.000, dengan mengaplikasikan metode superbodi saat menanam kedelai pada musim tanam ketiga.

"Salah satu dampak positifnya yakni peningkatan penguasaan teknologi petani yang mengarah pada pengembangan pertanian organik, pertanian terpadu, dan pertanian berkelanjutan. Bahkan, petani telah meningkat kapasitas penguasaan teknologinya sebagai petani penangkar yang mampu memproduksi benih bersertifikat secara berkelanjutan," katanya.

Dia menjelaskan, Kelompok Tani Makmur Tani telah berkembang menjadi salah satu sentra produksi produksi benih Inpago Unsoed 1 di Jawa Tengah dan menjadi percontohan aplikasi Salibu Jarwo Super di Indonesia.

“Hasil panen petani Gandrungmanis yang bermitra dengan Perusahaan Benih Great Quality Seed telah didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia, salah satu diantaranya 25 ton ke Kabupaten Darmasraya Prov. Sumatera Bara,” pungkas Totok.
sumber : https://www.gatra.com/iltek/sains/278661-tanam-padi-metode-salibu-tanpa-benih-tanpa-olah-lahan-panen-naik-2-kali-lipat

Nama : Maqdisa Devi
NIM : 16/395562/PN/14603

Komentar

Terpopuler

INOVASI APLIKASI DARI FAKULTAS PERTANIAN UGM " DESA APPS "

INOVASI APLIKASI DARI FAKULTAS PERTANIAN UGM " DESA APPS " Aplikasi yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah mada  merupakan sebuah invoasi dan terobosan yang inovatif dan penuh kreatifitas sebagai media / alat dan perantara yang dimaksudkan untuk memudahkan petani untuk berkomunikasi dengan para pakar pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang dapat diunduh secara gratis di playstore  bagi pengguna android yang selanjutnya dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat umum untuk mencari informasi dan bertanya langsung dengan pakar pertanian UGM. Aplikasi yang membantu para petani pintar dalam proses penanaman, perawatan, panen, hingga penjualan. - Temukan hasil panen, info pupuk, dan artikel pertanian di aplikasi Desa Apps - Intip hasil panen PETANI PINTAR hari ini - Desa Apps memberikan on-farm solutions dari hulu ke hilir - Konsultasi & tanya jawab secara langsung dengan para a...

Sistem Tanam Surjan

Teknologi Surjan Inovasi Balingtan -  Empat target sukses Kementerian Pertanian yaitu (1) swasembada berkelanjutan dan pencapaian swasembada, (2) diversifikasi pangan, (3) peningkatan daya saing nilai tambah ekspor, (4) kesejahteraan petani. Badan Penelitian dan Pengenbangan Pertanian beserta jajarannya memiliki kontribusi dan komitmen dalam pencapaian target tersebut. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mempunyai kebun percobaan Balingtan seluas 17 ha. Salah satu fungsi kebun percobaan adalah untuk mendukung pelaksanan tupoksi balai sebagai lokasi pelaksanaan penelitian, show windowpengadaan sumber benih, pengembangan agrowisata dan lain-lain.   Embung yang ada di Balingtan merupakan salah satu teknologi untuk beradaptasi terhadap kekeringan dan menampung air pada saat kelebihan air. Air embung dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi untuk penanaman disekitar embung dan demplot Sistem Pertanian Ramah Lingkungan (SPRL) model surjan. Upaya penana...

Alat Filter Inlet Dan Outlet (FIO) Residu Pestisida Pada Saluran Di Petakan Sawah

Alat Filter Inlet Dan Outlet (FIO) Residu Pestisida Pada Saluran Di Petakan Sawah Inovasi Balingtan -  Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) dilaporkan bahwa penggunaan pestisida di lahan pertanian (lahan padi dan sayuran) dapat mengakibatkan tertinggalnya residu pestisida pada tanah, tanaman, dan air (sawah). Balingtan melaporkan bahwa kandungan residu pestisida yang ditemukan cukup tinggi dan beberapa telah melebihi batas maksimum residu (BMR). Kandungan residu pestisida yang ditemukan tidak hanya pada air di dalam petakan sawah namun juga pada  inlet  maupun  outlet nya.  Kandungan residu pestisida pada saluran  outlet,  selanjutnya akan masuk ke aliran sungai dan akan membahayakan lingkungan biota air dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu alat filtrasi yang dapat menahan/menangkap residu pestisida tersebut sebelum terbawa aliran/masuk ke sung...