Inovasi Balingtan - Sebagian dari lahan pertanian yang ada sekarang ini diperkirakan telah tercemar baik oleh bahan pencemar yang bersumber dari alam maupun dari aktivitas manusia (antropogenik). Di antara kedua sumber ini, logam berat yang bersumber dari kegiatan antropogenik lebih berbahaya dan mengancam keselamatan lingkungan. Logam berat yang dihasilkan kegiatan ini dapat dengan mudah memasuki permukaan sistem tanah, dan berada pada bentuk yang tidak stabil sehingga mudah larut dan dapat diserap oleh tanaman.
Pada kondisi lingkungan khususnya lahan pertanian yang telah terkontaminasi logam berat, ada beberapa cara yang dilakukan untuk memulihkan kualitas lahan sawah yang tekontaminasi salah satunya adalah dengan cara fitoremediasi yaitu menggunakan tanaman hiperakumulator yang mampu menyerap dan mengakumulasikan logam berat di dalam jaringan tanaman.Beberapa tanaman ini dapat menurunkan kandungan logam berat dalam tanah yaitu: mendong, eceng gondok, purun tikus, dan sawi.
Mendong (Fymbristylis globulosa)
Tanaman mendong mampu menurunkan kadar logam berat Pb, Cd, dan Cu dalam tanah masing-masing sebesar 6%, 31%, dan 26%.
Eceng Gondok ( Eichornia crassipes)
Purun Tikus (Eleocharis dulcis)
Tanaman konsumsi yang responsif terhadap logam berat
Sawi (Brassica juncea)
Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati, Jawa Tengah
Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)





Komentar
Posting Komentar