Langsung ke konten utama

PENINGKATAN PRODUKSI TEBU DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN TANAMAN BERKUALITAS



PENINGKATAN PRODUKSI TEBU DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN TANAMAN BERKUALITAS

Tanaman tebu sampai saat ini masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target produksi gula sebanyak 5 juta ton pada tahun 2019. Dengan meningkatnya industri makanan dan minuman di Indonesia, kebutuhan gula nasional saat ini sekitar 6 juta ton/tahun untuk gula konsumsi sebanyak 3 juta ton dan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman 3 juta ton. Dilain pihak produksi guna nasional kita saat ini baru mencapai 2,5-2,8 juta ton/tahun.

Untuk meningkatkan produksi tebu, pemerintah telah melakukan berbagai upaya diantaranya melalui penggunaan bahan tanaman yang berkualitas. Yang perlu diperhatikan dalam menyediakan bahan tanaman berkualitas diantaranya penggunaan varietas unggul dan pengadaan bahan tanamannya.
Varietas unggul

Bahan tanaman harus memperhatikan sifat varietas unggul yaitu produksi dan rendemen gula tinggi, memiliki produktivitas yang stabil dan mantap, memiliki ketahanan yang tinggi untuk keprasan dan kekeringan serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Berdasarkan masa kemasakannya, tebu dibedakan menjadi tiga yaitu: 1) varietas genjah (masak awal), mencapai masak optimal ± 8-10 8-10 bulan;2) varietas sedang (masak tengahan) mencapai masak optimal pada umur ± 10-12
Sumber Gambar : www.google.com

bulan; dan 3) varietas dalam (masak lambat) mencapai masak optimal pada umur lebih dari 12 bulan. Masa panen tebu sebaiknya penanaman diatur sesuai komposisi varietas dengan umur masak yang berbeda yaitu masak awal, masak tengah dan masak lambat. Ada 7 varietas unggul yang telah dirilis oleh Menteri Pertanian pada tahun 2004 dan 2008) yang bisa ditanam yaitu PS 865 (masak awal – tengah), Kijang Kencana (Masak tengah-lambat), PS 864 (masak tengah-lambat), PS 891 (masak tengah-lambat), PSBM 901 (masal awal- tengah), PS 921 (masak tengah) dan PS 951 (masak lambat).
Pengadaan bahan tanaman
Untuk mendapat bahan tanaman yang berkualitas, kita perlu mengenal morfologi dan biologi tebu dari batang, akar, daun, bungan dan buah.

Batang, tanaman tebu tumbuh lurus dan beruas-ruas dibatasi dengan buku-buku. Pada setiap buku terdapat mata tunas tempat tumbuhnya tunas dan membentuk rumpun. Diameter bantang antara 3-5 cm dengan tinggi bantang antara 2-5 meter dan tidak bercabang;
Akar, akar tanaman tebu termasuk akar serabut, yang tumbuh dari cincin tunas anakan. Pada fase pertumbuhan batang terbentuk pula akar dibagian yang lebih atas yang diakibatkan pemberian tanah sebagai tempat tumbuh
Daun, daun tebu berbentuk busur panah seperti pita, berseling kanan dan kiri, berpelepah seperti daun jagung dan tidak bertangkai. Tulang daun sejajar dan dibagian tengah berlekuk. Tepi daun kadang-kadang bergelombang serta berbulu;

Bunga, berupa malai dengan panjang antara 50-80 cm. Cabang bunga pada tahap pertama berupa karangan bunga dan pada tahap selanjutnya berupa tandan dengan dua bulir panjang 3-4 mm, Pada bunga terdapat benangsari, putik dengan dua kepala putik dan bakal biji. .
Buah, tebu seperti padi, memiliki satu biji dengan besar lembaga 1/3 panjang biji. Biji tebu dapat ditanam dikebun percobaan untuk mendapatkan jenis baru hsil persilangan yang lebih unggul.
Tebu bibit dibudidayakan melalui beberapa tingkat kebun bibit yaitu Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar (KBD). KBP merupakan kebun bibit tingkat I menyediakan bibit bagi KBN. Bahan tanam KBP merupakan varietas introduksi yang sudah lolos seleksi seperti varietas unggul yang dilepas oleh P3GI, Penanaman KBP disentralisir disuatu tempat agar terjaga kemurniannya. KBN merupakan kebun bibit tingkat II yang menyediakan bahan tanam bagi KBI. Kebun ini dilaksanakan oleh institusi penelitian secara tersentralisir untuk menjaga kemurnian dan kesehatan tanaman. KBI merupakan kebun bibit tingkat III yang menyediakan bahan tanam bagi KBD. Luasan KBI yang lebih besar daripada KBP dan KBN dengan lokasi tersebar. Varietas yang ditanam pada KBI harus sudah mencerminkan komposisi jenis pada tanaman tebu giling. KBD merupakan kebun bibit tingkat IV yang menyediakan bahan tanaman bagi kebun tebu giling (KTG). Lokasi KBD hendaknya sedekat mungkin dengan likasi yang akan dijadikan KTG. Varietas yang ditanam di KBD hendaknya antara 1-3 jenis saja untuk mempermudah menjaga kesehatan dan kemurnian varietas.

Melalui proses seleksi bertingkat yang dilakukan dari satu tingkat kebun bibit ketingkat berikutnya, diharapkan bibit yang akan ditanam di kebun tebu giling (KTG) memiliki kualitas yang baik. Bibit tebu yang baik adalah bibit yang berumur 6-7 bulan, tidak tercampur dengan varetas lain, bebas dari hama dan penyakit tanaman dan tidak mengalami kerusakan fisik. Untuk memenuhi kebutuhan bibit untuk KTG, perlu diatur komposisi antara KBD dengan KTG sebanyak 1:5 artinya dari setiap 1 ha KBD dapat menghasilkan bibit tebu untuk 5 ha KTG.
Standar yang harus dipenuhi untuk KBP, KBN, KBI dan KBD adalah sebagai berikut: 1) Tingkat kemurnian varietas untuk KBP dan KBN harus 100%, sedang untuk KBI > 98% dan KBD > 95%; 2) Bebas dari luka api, penyakit blendok, pokkah bung, mosaik dengan toleransi gejala serangan < 5%; 3) Gejala serangan penggerek batang < 2% dan gejala serangan hama lainnya < 5%; dan 4) Lokasi kebun bibit dipinggir jalan, lahan subur, pengairan terjamin dan bebas dari genangan.

Untuk standar kualitas bibit dan varietas unggul harus memenuhi standar sebagai berikut: 1) Daya kecambah > 90%, segar tidak berkerut dan tidak kering; 2) Panjang ruas 15-20 cm dan tidak ada gejala hambatan pertumbuhan; 3) Diameter batang ± 2 cm dan tidak mengkerut/mongering; 4) Mata tunas masih dorman, segar dan tidak rusak; dan 5) Primordia akar belum tumbuh dan bebas dari penyakit pembuluh.

oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : 1) Budidaya dan Pasca Panen Tebu, 2010 Puslitbang Perkebuan, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian; 2) Dihimpun dari beberapa sumber
Tanggal Artikel : 03-08-2017

Komentar

  1. Nama : Yulia Novitasari
    NIM : 16/394345/PN/14584

    Nilai Berita :
    1. Timelines : berita yang disajikan masih tergolong baru karena dikeluarkan pada tahun 2017.
    2. Proximity : berita yang disajikan dekat dengan petani karena berhubungan dengan keseharian petani khususnya petani yang menanam tebu.
    3. Importance : berita tersebut mengandung informasi yang penting mengenai cara meningkatkan produksi tebu menggunakan bahan tanaman yang berkualitas.
    4. Consequence : berita yang disajikan mengandung sebab akibat yaitu karena konsumsi gula tinggi sehingga menyebabkan produksi gula harus naik.

    Nilai Penyuluhan :
    1. Adanya sumber teknologi atau ide yaitu dari penggunaan bahan yang berkualitas untuk meningkatkan produksi tanaman tebu.
    2. Adanya sasaran yaitu para petani atau pelaku usahatani yang menanam komoditas tebu.
    3. Adanya manfaat karena produksi tebu dalam negeri memang harus ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan gula sebelum banyak dilakukan impor gula.
    4. Adanya nilai pendidikan bagi petani tebu agar mampu meningkatkan produksi tebu.

    Terimakasih:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terpopuler

INOVASI APLIKASI DARI FAKULTAS PERTANIAN UGM " DESA APPS "

INOVASI APLIKASI DARI FAKULTAS PERTANIAN UGM " DESA APPS " Aplikasi yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah mada  merupakan sebuah invoasi dan terobosan yang inovatif dan penuh kreatifitas sebagai media / alat dan perantara yang dimaksudkan untuk memudahkan petani untuk berkomunikasi dengan para pakar pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang dapat diunduh secara gratis di playstore  bagi pengguna android yang selanjutnya dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat umum untuk mencari informasi dan bertanya langsung dengan pakar pertanian UGM. Aplikasi yang membantu para petani pintar dalam proses penanaman, perawatan, panen, hingga penjualan. - Temukan hasil panen, info pupuk, dan artikel pertanian di aplikasi Desa Apps - Intip hasil panen PETANI PINTAR hari ini - Desa Apps memberikan on-farm solutions dari hulu ke hilir - Konsultasi & tanya jawab secara langsung dengan para a...

Sistem Tanam Surjan

Teknologi Surjan Inovasi Balingtan -  Empat target sukses Kementerian Pertanian yaitu (1) swasembada berkelanjutan dan pencapaian swasembada, (2) diversifikasi pangan, (3) peningkatan daya saing nilai tambah ekspor, (4) kesejahteraan petani. Badan Penelitian dan Pengenbangan Pertanian beserta jajarannya memiliki kontribusi dan komitmen dalam pencapaian target tersebut. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mempunyai kebun percobaan Balingtan seluas 17 ha. Salah satu fungsi kebun percobaan adalah untuk mendukung pelaksanan tupoksi balai sebagai lokasi pelaksanaan penelitian, show windowpengadaan sumber benih, pengembangan agrowisata dan lain-lain.   Embung yang ada di Balingtan merupakan salah satu teknologi untuk beradaptasi terhadap kekeringan dan menampung air pada saat kelebihan air. Air embung dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi untuk penanaman disekitar embung dan demplot Sistem Pertanian Ramah Lingkungan (SPRL) model surjan. Upaya penana...

Alat Filter Inlet Dan Outlet (FIO) Residu Pestisida Pada Saluran Di Petakan Sawah

Alat Filter Inlet Dan Outlet (FIO) Residu Pestisida Pada Saluran Di Petakan Sawah Inovasi Balingtan -  Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) dilaporkan bahwa penggunaan pestisida di lahan pertanian (lahan padi dan sayuran) dapat mengakibatkan tertinggalnya residu pestisida pada tanah, tanaman, dan air (sawah). Balingtan melaporkan bahwa kandungan residu pestisida yang ditemukan cukup tinggi dan beberapa telah melebihi batas maksimum residu (BMR). Kandungan residu pestisida yang ditemukan tidak hanya pada air di dalam petakan sawah namun juga pada  inlet  maupun  outlet nya.  Kandungan residu pestisida pada saluran  outlet,  selanjutnya akan masuk ke aliran sungai dan akan membahayakan lingkungan biota air dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu alat filtrasi yang dapat menahan/menangkap residu pestisida tersebut sebelum terbawa aliran/masuk ke sung...